Sekolah Perlu Kembangkan Pendidikan Akhlak dan Budi Pekerti

10-Okt-2011

 

 

Lembaga pendidikan mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi perlumengembangkan pendidikan akhlak mulia dan budi pekerti. Hal itu dikatakan KetuaDPR RI Marzuki Alie dalam sambutannya pada acara Rapat Senat Terbuka dalamrangka Wisuda Sarjana ke-6 dan Dies Natalies Ke-5, Universitas PGRI Ronggolawe(Unirow) Tuban, Jawa Timur, Sabtu (8/10). Marzuki memaparkan, yang terjadi hari iniadalah hasil pendidikan masa lalu. Saat ini banyak orang yang tidak lagi menggunakanetika dan hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya. “Ada sesuatuyang salah dalam pendidikan masa lalu, oleh karena itu peran para guru sangatpenting dan strategis untuk mempersiapkan generasi mendatang yang lebihberkualitas,” ungkapnya.

Ketua DPR menjelaskan, pada masa lalu pendidikan hanya mengedepankankecerdasan intelektual, tanpa diimbangi kecerdasan spiritual dan sosial. “Budi pekertidan akhlak tidak lagi diindahkan, meski masjid penuh dengan orang yang beribadah,tetapi korupsi jalan terus,” tukasnya. Dia menambahkan, akhir-akhir ini minat menjadiguru sangat besar, padahal pada masa lalu guru menjadi pilihan terakhir. Lebih lanjutMarzuki mengungkapkan, saat ini perhatian pemerintah dan DPR terhadapkesejahteraan para guru sangat besar, terbukti dengan semakin meningkatnya alokasianggaran untuk kesejahteraan guru. Dengan meningkatnya kesejahteraan para guru,Ketua DPR meminta agar diimbangi dengan peningkatan kinerja dan kualitasnya.Kepada para wisudawan/wati dan keluarganya, Marzuki Alie menyampaikan ucapanselamat dan berharap kesempatan dan ilmu yang didapat dimanfaatkan untuksebesar-besarnya kemaslahatan umat.

Rektor Universitas PGRI Ronggolawe Tuban (Unirow) Drs. Hadi Tugur, MM dalamsambutannya mengatakan, meningkatkan mutu SDM dan inovasi teknologi merupakantujuan pendidikan di Unirow. Dengan 3 pilar Perguruan Tinggi yakni pendidikan,penelitian, dan pengabdian masyarakat, mahasiswa Unirow sudah ditempa untukmeningkatkan dan mengembangkan daya saing. Rektor memaparkan menurutUNESCO ada 4 pilar pendidikan yang harus diterapkan yakni learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Konsep ini sangat baik tetapi adakendala dalam implementasinya. “Mahasiswa rata-rata sudah mengetahui norma-norma dan nilai-nilai. Kalau hanya knowledge semua mahasiswa tahu, orang harusjujur, rajin dan lain-lain, tapi bagaimana implementasinya, ini yang masih menjadipersoalan,” ungkapnya.

Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Dr. H.Sulistiyo, M. Pd. pada kesempatan tersebut mengatakan, peningkatan kinerja dankualitas menjadi agenda utama PGRI. Kepada para guru honorer dan calon guru,Sulistiyo mengingatkan bahwa tidak mungkin semua orang menjadi pegawai negeri,tetapi para guru swasta dan guru honor yang bekerja penuh waktu Senin – Sabtuhendaknya diberi perlindungan dan kesejahteraan yang wajar, juga diatur pendapatanatau honor yang minimal. Kepada  pemerintah dan DPR, Ketua PGRI mengharapkanagar dapat mengalokasikan APBN untuk tunjangan bagi guru swasta dan honorer.“Jika ada 1 juta guru disubsidi oleh APBN dengan 500 ribu rupiah, hanya memerlukanuang 6 triliyun rupiah 1 tahun,” jelasnya. “Sehingga perbaikan kesejahteraan tidakhanya untuk guru negeri saja tapi juga untuk guru swasta dan honorer,” ujarnyamenambahkan.

Pada kunjungannya kali ini Ketua DPR didampingi Anggota Komisi X DPR RI, H. SolehSoe’aidy (F-PD) yang berasal dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur III dan jajaranpengurus PGRI pusat dan provinsi Jawa Timur. (Rn.Tvp)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s